
PAMEKASAN – Dalam setiap pelaksanaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD), terdapat nilai historis yang senantiasa dipertahankan dan dibawa dalam setiap kegiatan. Pelaksanaan TMMD tidak semata-mata mengenai pembangunan jalan, saluran drainase, atau fasilitas umum lainnya, tetapi lebih kepada kolaborasi antara TNI dan masyarakat dalam membangun desa dengan semangat gotong royong.
Sejarah program ini berakar dari kegiatan ABRI Masuk Desa (AMD) yang dimulai pada tahun 1980 di bawah kepemimpinan Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf. Misi utamanya adalah untuk memperkuat interaksi antara ABRI dengan masyarakat lewat proyek-proyek pembangunan yang bersifat partisipatif.
Filosofi yang dijunjung adalah kehadiran prajurit di tengah-tengah masyarakat untuk hidup bersamanya dan langsung terlibat dalam aktivitas sehari-hari. Hal ini menandakan bahwa pembangunan harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya ditangani oleh pihak aparat pemerintah semata.
Setelah reformasi tahun 2000 yang mengubah struktur organisasi ABRI menjadi TNI dan Polri, program ini dikenal dengan nama TMMD. Meski nama berubah, jiwa dan semangat dari AMD tetap dipegang teguh dalam setiap pelaksanaan, termasuk di Desa Jarin, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, di mana Satgas TMMD ke-130 sedang melaksanakan tugasnya.
Kapten Chb Aman Karyoko, sebagai Pasiter Kodim 0826/Pamekasan, menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. Menurutnya, penggunaan alat-alat sederhana dalam beberapa aktivitas dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada warga agar terlibat secara langsung, dan merasakan kebersamaan dalam pembangunan desanya.
“Kami ingin melestarikan nilai sejarah yang ada di TMMD ke-130 di Desa Jarin. Dengan tidak sepenuhnya menggunakan alat berat, kami berharap warga tidak hanya menjadi penonton, melainkan dapat ikut serta dalam pengerjaan,” ujarnya di Balai Desa Jarin, Jumat (30/10/2026).
Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan TMMD terlihat dari tiga dimensi kebersamaan yang jelas: pertama, kedekatan antara prajurit dengan warga, di mana Babinsa Desa Jarin, Serda Syarif, memilih tinggal dengan masyarakat selama proyek berlangsung, sehingga tercipta interaksi yang intim.
Kedua, semangat gotong royong yang nampak dalam pekerjaan. Contohnya, saat pembangunan drainase di Dusun Kotalon dan pengecoran jalan di Dusun Morsoksok, di mana warga dan prajurit bekerja sama dalam pengangkutan pasir dan persiapan material.
Ketiga, munculnya rasa memiliki terhadap hasil dari pembangunan tersebut. Dengan keterlibatan langsung, diharapkan masyarakat merasa memiliki dan bertanggung jawab untuk menjaga serta merawat fasilitas yang telah dibangun agar dapat bermanfaat dalam jangka waktu yang panjang.
Samsul Ma’arif, salah satu tokoh masyarakat Dusun Kotalon, terlibat aktif dalam kegiatan gotong royong tersebut. Kepala Desa Jarin, Moh. Zuhri, juga mengakui bahwa kehadiran Satgas TMMD telah memberikan dorongan untuk menghidupkan kembali semangat kerjasama dalam masyarakat.
“Seperti mengingat kembali masa-masa lalu, seluruh warga berpartisipasi. Bedanya, kini ada bimbingan dari pihak TNI. Ini membuat kami merasa bahwa proyek ini adalah milik kami sendiri,” jelasnya.
Bagi masyarakat Desa Jarin, TMMD bukan sekedar proyek infrastruktur tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat persatuan, kepedulian, dan sikap gotong royong yang telah lama dihayati oleh mereka. Warisan AMD dari tahun 1980 ini membuktikan bahwa pembangunan desa memerlukan lebih dari sekadar sarana fisik, tetapi juga keterlibatan aktif antara TNI dengan rakyat.
Dengan TMMD ke-130, semangat tersebut dihidupkan kembali sebagai bentuk pengabdian TNI untuk pemerataan pembangunan di seluruh pelosok desa.
